Merdeka 63x

Posted on August 17, 2008. Filed under: Coretan |

 

Hari ini negaraku merayakan kemerdekaannya, ibarat kakek-kakek sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 63. Masih agak muda memang untuk ukuran kakek-kakek, bahkan jauh lebih muda dari usia bapakku sendiri yang mempunyai 15 cucu. Setiap orang tua selalu punya pengalaman dan identik dengan kematangan. Begitu pula negaraku yang memiliki beribu pengalaman, dari yang paling pahit hingga yang paling membanggakan.

Sejak naskah proklamasi dikumandangkan, negaraku mulai berbenah. Bung Karno sebagai pemimpin awal negaraku dengan hebatnya telah menancapkan doktrinase dan semangat kebebasan di dalam dada rakyat masa itu, sebagai bekal mental menghadapi kemerdekaan yang sesungguhnya. Di bawah komando Bung Karno, peradaban negaraku mulai mengenal berbagai idiologi. Semangat kebebasan yang telah tertanam mampu melahirkan idiologi-idiologi patriotik, spiritual dan sosialis dalam bentuk tiga istilah Nasionalis, Agama dan Komunis. Ketiga idiologi ini berusaha dipersatukan, namun sayang, salah satunya bak kutub magnet sejenis yang saling bersinggungan jika didekatkan dengan dua idiologi yang lainnya. Fakta sejarah mengharuskan Komunis mesti enyah dari negaraku.

Suharto sang pemimpin berikutnya begitu “pe-de” dengan rezim orde barunya, membangun dari berbagai sektor dengan sangat meyakinkan, mengagung-agungkan demokrasi dimana pembangunan dari, oleh dan untuk rakyat. Di masa inilah peradaban negaraku mulai dijamah modernisasi. Peradaban baru yang pada akhirnya memperkenalkan istilah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, yaitu tiga istilah yang menjadi candu dan kemudian menghancurkan eksistensi rezim berbau “beringin” itu sendiri.

“Reformasi” menjadi pemimpin negaraku selanjutnya. Ya, kusebut saja “reformasi” karena 3 pemimpin berikutnya sama-sama berjuang di masa dan atas nama reformasi. Ketiganya adalah Habibi, Gus Dur dan Megawati. Seakan berbagi masa, ketiganya silih berganti mengukir fakta sejarah dalam peradaban bernama reformasi tersebut. Habibi berperan bak seorang dokter ahli tulang dengan beraninya meng-amputasi bagian tubuh yang tidak penting di negaraku, bagian tubuh itu bernama Timor Timur. Gus Dur yang hanya sepintas lalu memang tak begitu nampak perannya, tapi setidaknya mampu menjadi cameo di luar gerombolan orde baru yang sebelumnya begitu mendominasi. Alhasil, Gus Dur menjadi inspirator bagi para tokoh agama yang ingin berpolitik. Megawati sang pemain cadangan yang menggantikan Gus Dur berusaha mengembalikan semangat kebebasan sang legendaris Bung Karno. Reformasi menjadikan negaraku nervous untuk melangkah, dan semangat kebebasan nampaknya adalah pilihan yang tepat bagi rakyat masa itu. Para idealis dari yang tua hingga yang muda seakan punya kesempatan untuk berkiprah, bebas ber-argumen, bebas menulis, bebas berkreasi, dan yang paling penting bebas berkritik ria tanpa memperdulikan kompetensi para pelakunya. Masa dimana idealisme begitu diagung-agungkan, pers jadi senjata ampuh, eksploitasi modernisasi, peran wanita mulai dipentingkan, fakta sejarah kembali dipertanyakan dan absurditas menjadi makanan sehari-hari. Sedangkan bagi sang pemimpin sendiri yang konon berjiwa keibuan, semangat kebebasan termasuk pembebasan beberapa aset negara ke pihak asing lantaran tidak dikelola secara professional.  

Kini, langkah negaraku dipimpin oleh seorang berdisiplin tinggi yang lebih awam disebut dengan inisial SBY. Peradaban baru telah diciptakannya bagi negaraku. Prestasi terbesarnya adalah menjadi rezim yang terhebat dalam membasmi “tikus” untuk sementara ini. Setidaknya, dibawah komandonya, peradaban negaraku mulai menemukan obat yang mujarab bagi siapa saja yang tengah kecanduan korupsi. Sedangkan prestasi keduanya adalah pemecah rekor kenaikan BBM.

Siapapun pemimpin selanjutnya, pastinya akan melahirkan peradaban baru yang lebih hebat buat negaraku. Jika Bung Karno mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa-jasa pahlawannya, maka sudah semestinya bangsa yang besar juga harus dapat melanjutkan perjuangan pahlawannya. Perayaan 17 Agustus memang selalu meriah dikumandangkan di berbagai belahan negaraku, bahkan gempitanya melebihi pengetahuan mengenai makna kemerdekaan itu sendiri. Bukankah dalam pembukaan UUD 45 jelas tertulis bahwa perjuangan baru sampai ke depan pintu gerbang kemerdekaan ??? Ironis sekali jika euforia perayaannya seakan merasa telah mencapai kemerdekaan yang sebenarnya.

Serangkaian warna-warni pelangi begitu indah menghiasi perjalanan negaraku hingga 63 tahun ini. Namun angka 63 sebenarnya bukanlah usia seperti halnya usia kakek-kakek, melainkan angka akumulasi kemerdekaan yang pernah diraih. Dari berbagai bentuk peradaban dan kenyataan pahit yang pernah dialami, negaraku telah melewatinya dengan 63 kali kemerdekaannya. Merdeka !!! (ANO)  

 Life without civilization is brutal, nasty and short…

 

 

 

 

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

You must be logged in to post a comment.

    About

    Semakin kunikmati malam, semakin lama aku tertidur, mimpiku hanyalah ungkapan tak terpuaskan

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe in Rojo

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...