Kemacetan & Promo Usil Hartz Chicken

Posted on September 18, 2008. Filed under: Coretan |

Tak seperti biasanya, sore itu HR Rasuna Said begitu macet, bisa jadi kemacetan terparah yang pernah kualami selama 2 taun di Jakarta. Jika biasanya status lalu lintas di wilayah Kuningan tersebut padat-lancar, maka di bulan puasa sore itu berubah menjadi padat merayap bentar lalu berhenti lagi (hehehe…). Sengaja aku dan reporterku pulang lebih awal setelah liputan pengemis di masjid Istiqlal dan masjid Sunda Kelapa Menteng, tujuannya apalagi kalo bukan untuk menikmati buka puasa di rumah, atau minimal di kantor bila waktu tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah. Pilot (driver) yang membawa kami liputan-pun nampak kesal karena tidak bisa “menggenjot” Kijang LGX-nya seperti biasa. Mau tak mau kami memang harus sabar menghadapi kondisi tersebut.

Aku-pun sadar bahwa semua orang yang turut memberikan kontribusinya dalam kemacetan sore itu juga berharap sama denganku, pengen merasakan berbuka di tempat yang nyaman bersama keluarga, sahabat ataupun rekan bisnis mereka, sehingga mereka berusaha sampai di tempat tersebut secepat mungkin sebelum tiba saat berbuka, walaupun pada akhirnya tetap saja mereka harus membatalkan puasanya di jalan ketika bedug telanjur berbunyi di radio mobil.

Serasa bosan memandangi gedung-gedung tinggi di kawasan bisnis terbesar kedua di Jakarta setelah Sudirman-Thamrin itu, pemandangan lainnya hanyalah mobil-mobil berbaris di jalanan yang tiap menit melantunkan orkestra klakson begitu dinamis, dari mobil yang paling mewah sampai yang paling jelek (dan sepertinya mobil terjelek yang melintasi Kuningan hanyalah Kopaja 20, hihihi…).  Ada juga pemandangan menarik dari bocah-bocah penjual air mineral di sepanjang jalur lambat, tepat di antara tiang-tiang monorail yang belum kelar pembangunannya.

Waktu terus berlalu, mobil kami terus merengsek maju menembus padatnya antrian, dan kini pandangan mataku beralih ke deretan papan-papan reklame. Perang tarif operator selular masih mendominasi di sepanjang jalan, ada juga produk elektronik, kosmetik, obat-obatan, jamu (nah lo…), mobil, motor, perbankan hingga layanan masyarakat, semua terpampang bak jemuran baju di pekarangan rumah.

Sampai di depan Pasar Festival, tepatnya di sebelah pintu masuk GOR Soemantri Brodjonegoro, pandanganku terfokus pada sebuah warung kecil bangunan minimalis modern berwarna merah. Di atasnya terpampang papan reklame berukuran sedang bertuliskan HARTZ CHICKEN dan di baris berikutnya DISKON RP. 31.800,00, di baris berikutnya lagi SENIN S/D JUM’AT, JAM 13.00 – 15.00 WIB. Membaca tulisan baris pertama, aku jadi teringat masa lalu, waktu masih aktif di kepanitiaan bursa kerja kampus. Tiap bubaran panitia, rujukannya selalu restoran modern yang belakangan ku kenal dengan istilah Buffet dan konon kabarnya berasal dari Texas – Amrik itu. Memang nikmat makanannya, porsinya-pun benar-benar “swa-daya”, artinya bisa ditentukan sendiri sesuai “daya” tampung perut kita masing-masing.

Membaca tulisan baris kedua, membuat saliva-ku mulai merembes membasahi dinding-dinding rongga mulut. Terakhir kali aku makan di tempat itu 2 bulan yang lalu harganya gila-gilaan, sampai Rp. 60.000 per orang. Bayangin aja, duit segitu klo buat makan di Warteg mungkin bisa membuat kenyang perut 5 orang sekaligus, sementara di Hartz Chicken hanya cukup buat menyumbat se-lubang buncit-ku ini. Walaupun pilihan menunya jauh lebih keren dibandingkan Warteg, toh keluarnya juga sama-sama berakhir di WC. Namun lain halnya jika harganya seperti harga diskon yang tertera di papan reklame tersebut, setidaknya harga Rp 31.000 masih lebih murah bila dibandingkan dengan rumah makan Sederhana, Dapur Sunda, Ampera, ayam goreng Suharti, ikan bakar Mak Engking, hingga sate Maranggih Purwakarta sekalipun, bahkan masih jauh lebih murah dibanding secangkir kopi Starbuck ataupun Coffee Bean, tentunya bila ditinjau dari segi porsi dan pilihan menu makanannya. Itulah alasanku mengapa begitu mupeng untuk mencobanya.

Pikiran negatif, sok kritis dan sedikit anarkis tiba-tiba muncul ketika membaca tulisan di baris yang terakhir (maklum…wartawan sejati…:p). Kenapa? Karena seketika itu juga liurku mengering. Betapa tidak, di bulan puasa ini masih saja ada oknum-oknum yang iseng demi kepentingan bisnis mereka. Memasang promo menggiurkan yang secara tidak langsung mengajak orang lain untuk “enyah” dari puasanya. Entah apa maksudnya, yang jelas saat itu diriku hanya bisa “ngiler” membaca promo yang terpampang jelas diatas pintu masuk warung modern bernama Hartz Chicken itu. Ironis memang, mana mungkin aku membatalkan puasaku yang tersisa 2,5 jam lagi, hanya demi mendapatkan diskon makan di Hartz Chicken.

Jauh dari sekedar “ngiler”, ada sederet pertanyaan yang masih bergelantungan dalam otak jeniusku (pede abisss….emang Sinichi Kudo aj yang punya otak jenius???:p). Apa maksud promo itu? Ide siapakah itu? Kenapa harus di bulan puasa? Niat gak sih ngasih diskon? Jelas-jelas siang hari waktunya orang pada puasa, malah dikasih “pengumuman” macam itu. Banyak Warteg di deket kantor yang buka pada siang hari, tapi dengan sengaja mereka menutup jendelanya rapat-rapat, demi menghormati orang yang puasa. Yang sedang makan pun, para tukang ojek, sopir bajai, sopir bus dan keneknya, OB, cleaning service dan wartawan (mengenaskan…), pada sembunyi-sembunyi biar gak malu kalau ketauan makan. Tapi di Hartz Chicken, yang bangunannya lebih modern, menu makanannya lebih beragam dan enak-enak, pemiliknya lebih berpendidikan dalam hal manajemen bisnis, koki-kokinya jebolan kursus masak, pelayan-pelayannya mahasiswa yang sedang kerja sambilan, pembelinya orang kantoran berdasi, para pebisnis dan para mahasiswa yang lagi bubaran panitia bursa kerja (hehehe…), bahkan tukang parkirnya pun bekas jawara preman Blok M yang udah tobat, tapi seakan tidak memiliki toleransi terhadap insan-insan yang lagi berpuasa di siang hari, malah memasang promo gede-gedean ngasih diskon buat yang mau makan pada jam puasa (gileee beneer…).

Kenapa bisa begitu? Mungkin aku sendiri hanya bisa menulis curahan hati ini tanpa bisa tau jawabannya, karena aku memang dilahirkan bukan sebagai seorang pebisnis dan wajar jika aku kurang paham dengan strategi-strategi bisnis macam itu. Yang kutau, seandainya jam diskonnya dipindah di jam 18.00 – 20.00 WIB, mungkin seminggu sekali aku bisa makan enak dan kenyang hanya dengan Rp 31.000, dan pastinya bukan cuman aku yang makan di Hartz Chicken pada jam diskon, tentunya banyak juga yang berminat (orang Indonesia mana sih yang gak suka makan ???).

Pengen banget aku mewawancarai sang pemilik warung modern sekaligus pencetus ide promo usil itu. Setidaknya bisa tau lebih banyak tentang dunia bisnis, terutama bisnis yang menyangkut toleransi beragama (gak nyambung kali ya…). Dan yang lebih penting lagi, akan sangat beruntung kalau sehabis wawancara aku dapat makanan gratis juga, gak sekedar diskon (hehehe….aku juga bisa bikin liputan usil :p). Di tengah kemacetan itu, aku hanya bisa berharap. Yang pertama, berharap semoga FPI tidak mendatangi warung modern itu, dan yang kedua, berharap segera sampai di kantor, karena tukang kolak depan kantor pastinya sudah menungguku. VIVAT !!!

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

You must be logged in to post a comment.

    About

    Semakin kunikmati malam, semakin lama aku tertidur, mimpiku hanyalah ungkapan tak terpuaskan

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe in Rojo

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...